Prinsip Dasar Biofloc Keunggulan dan Kelemahannya

Biofloc sama dengan teknologi RWS (Red Water System) yang merupakan teknik dalam membudidayakan ikan tampa harus mengganti air. Bioflok ini merupakan teknologi yang sangat efisien dan dapat digunakan dalam banyak budidaya ikan air tawar.

bioflac-chart777123

Bioflok berasal dari dua kata yaitu Bio “kehidupan” dan Flok “gumpalan”. Sehingga biofloc dapat diartikan sebagai bahan organik hidup yang menyatu menjadi gumpalan-gumpalan. Gumpalan tersebut terdiri dari berbagai mikroorganisme air termasuk bakteri, algae, fungi, protozoa, metazoa, rotifera, nematoda, gastrotricha dan organisme lain yang tersuspensi dengan detritus.

Bioflok merupakan flok atau gumpalan-gumpalan kecil yang tersusun dari sekumpulan mikroorganisme hidup yang melayang-layang di air. Teknologi bioflok adalah teknologi yang memanfaatkan aktivitas mikroorganisme yang membentuk flok. Aplikasi BFT (Bio Floc Technology) banyak diaplikasikan disistem pengolahan air limbah industri dan mulai diterapkan di sistem pengolahan air media aquakultur.

Biofloc Membutuhkan Alat Aerasi

Mengapa dalam penjelasan tersebut aerasi dibutuhkan? Itu karena dalam teknlogi bioflok ini gumpalan yang ada pada dasar kolam harus terus diaduk, selain itu juga kolam membutuhkan oksigen yang tinggi dengan kisaran 4 ppm-6 ppm. Penambahan seperti molase, tepung tapioka, tepung terigu, bekatul atau gula merupakan bahan baku stater yang mengandung karbon yang sangat dibutuhkan dalam pertumbuhan mikroorganisme.

Hal-hal yang perlu Diperhatikan dalam Sistem Bioflok

  1. Bahan organik harus cukup (TOC > 100 mgC/L) dan selalu teraduk
  2. Nitrogen disintesis menjadi mikrobial protein dan dapat dimakan langsung oleh udang dan ikan
  3. Perlu disuplay C organik (molase, tepung terigu, tepung tapioka) secara kontinue atau sesuai dgn amonia dalam air
  4. Oksigen harus cukup serta alkalinitas dan pH harus terus dijaga

Keunggulan Sistem Bioflok

  1. pH relatif stabil
  2. pH nya cenderung rendah (asam), sehingga kandungan amoniak (NH3) relatif kecil
  3. Tidak tergantung pada sinar matahari dan aktivitasnya akan menurun bila suhu rendah.
  4. Tidak perlu ganti air (sedikit ganti air) sehingga biosecurity (keamanan) terjaga
  5. Limbah tambak (kotoran, algae, sisa pakan, amonia) didaur ulang dan dijadikan makanan alami berprotein tinggi
  6. Lebih ramah lingkungan.

Kelemahan Sistem Bioflok

  1. Tidak bisa diterapkan pada tambak yang bocor/rembes karena tidak ada/sedikit pergantian air
  2. Memerlukan peralatan/aerator cukup banyak sebagai suply oksigen
  3. Aerasi harus hidup terus (24 jam/hari)
  4. Pengamatan harus lebih jeli dan sering muncul kasus Nitrit dan Amonia
  5. Bila aerasi kurang, maka akan terjadi pengendapan bahan organik. Resiko munculnya H2S lebih tinggi karena pH airnya lebih rendah
  6. Kurang cocok untuk tanah yang mudah teraduk (erosi). Jadi dasar harus benar-benar kompak (dasar berbatu / sirtu, semen atau plastik HDPE)
  7. Bila terlalu pekat, maka dapat menyebabkan kematian bertahap karena krisis oksigen (BOD tinggi)
  8. Untuk itu volume Suspended Solid dari floc harus selalu diukur.Bila telah mencapai batas tertentu, floc harus dikurangi dengan cara konsumsi pakan diturunkan.
Advertisements
This entry was posted in Biofloc and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s